Tampilkan postingan dengan label Review dan Resensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review dan Resensi. Tampilkan semua postingan

‎[Review, Koleksi Sejarah] Dalem Tawanan Djepang – Nio Joe Lan



[BLURB]
Nio Joe Lan pada tahun 1942 turut dipenjarakan oleh tentara Jepang dan buku ini adalah suatu catatan sejarah yang sangat teliti dan berharga mengenai pengalamannya dan kejadian dalam penawanan Jepang. Tidak banyak bekas tawanan Jepang yang pernah menulis buku yang selengkap dan seseksama ini, namun juga sangat menarik.
Myra Sidharta
Pengamat budaya Tionghoa di Indonesia
-----------------------------------------------------------------------------
Judul            : Dalem Tawanan Djepang
Penulis         : Nio Joe Lan
Penerbit       : Komunitas Bambu
Cetakan        : II/ September 2008
Ukuran         : 13 x 19 cm
Tebal            : 356 halaman
Kertas          : Bookpaper, Soft cover
ISBN            : 978-3731-31-1
----------------------------------------------------------------------------
Nio Joe Lan, sebagai seorang interneeran (tawanan perang) Jepang menceritakan kisah hidupnya selama berada di dalam tiga penjara berbeda selama 3 tahun. Kisah-kisah dalam buku ini diurut berdasarkan tempat di mana Nio Joe Lan dipenjara. Jadi, ada tiga bagian dalam buku ini, yang meliputi bagian “Boekit-Doeri”, “Serang”, dan “Tjimahi”.
Ketiga bagian tersebut ibarat fase kehidupan Nio Joe Lan sebagai seorang tawanan perang. Di “Boekit-Doeri”, Nio Joe Lan menceritakan kisah awal ketika ia ditangkap saat ia berada di rumahnya, hingga ketika, untuk pertama kalinya, ia mengalami rasanya menjadi seorang tahanan.
Setelah 17 bulan di Boekit Doeri (Bukit Duri), para tawanan berikut Nio Joe Lan dipindahkan ke penjara Serang. Di penjara ini pun tidak jauh beda. Namun beberapa hal memang lebih baik daripada di Boekit Doeri. Genap 5 bulan kemudian, rombongan tawanan itu kembali dipindahkan. Kamp selanjutnya adalah Tjimahi (Cimahi). Di Tjimahi ternyata lebih nyaman daripada di dua penjara sebelumnya. Makanan lebih layak dan mencukupi, sel yang luas, dan sebagainya.
Buku ini ibarat buku harian Nio Joe Lan selama 3 tahun menjadi tawanan perang. Mayoritas alur dalam buku ini berjalan maju, sebab Nio Joe Lan mengurutkan kisahnya berdasarkan peristiwa yang terjadi hari demi hari. Tapi kadang ia selipkan juga beberapa flashback untuk menguatkan emosi dalam ceritanya.
Nio Joe Lan mengisahkan pengalamannya di dalam penjara dengan begitu lugas, detil, dan terlebih lagi, menghibur. Kisah-kisah lucu di dalam penjara tidak lupa pula ia selipkan di antara kisah-kisah memilukan layaknya kisah para tahanan perang. Menurut saya, tidak pernah membosankan.
Sayangnya, saya membutuhkan waktu lama untuk menamatkan buku ini. Apa pasal? Bahasa yang digunakan bukanlah bahasa Indonesia seperti yang digunakan saat ini. Buku ini menggunakan bahasa murni seperti yang ditulis oleh Nio Joe Lan tujuh dekade yang lalu, bahasa Melayu Lingua Franca. Mirip dengan ejaan Van Ophuijsen, tapi bedanya, bahasa buku ini memiliki dialek khas tionghoa. Saya kutipkan beberapa kalimat:
“Itoe malem, sasoeda ditoetoep, dari bebrapa cel saja denger orang njanjiken Stille Nacth, Heilig Nacth jang mengharoeken hati. Saja tjoba bajangken, brapa banjak roemah-tangga di seloeroeh doenia di itoe malem terbenam dalem kadoekahan, ... oleh sakean banjaknja anak-anak jang salandjoetnja kailangan marika poenja ajah jang tertjinta.”
Andai saja ejaannya diubah ke dalam ejaan saat ini, misal; “j” ditulis “y”, “tj” ditulis “c”, “oe” ditulis “u”, dan sebagainya, tanpa menghubah struktur kalimat, maka itu akan lebih baik dan mudah dibaca. Pembaca tidak perlu bekerja dua kali; memahami bahasa sekaligus memahami jalan ceritanya.
Tapi sebenarnya, saya akui, ini ilmu baru bagi saya pribadi. Tahap demi tahap, saya jadi terbiasa membaca dengan ejaan lama tersebut, dengan kecepatan membaca seperti saat membaca buku berejaan terbaru.
Buku bagus, recommended sekali bagi para pecandu sejarah J

‎[Review, Koleksi Sejarah] Ensiklopedia Babad Bumi Jawa – Krisna Bayu Adji



[BLURB] Pulau Jawa merupakan pulau yang sering dilukiskan sebagai tanah surga. Karena kesuburan tanah dan hasil buminya yang melimpah ruah; banyak bangsa asing dari benua Asia dan Eropa datang di Pulau Jawa baik untuk melakukan syiar agama serta perniagaan. Bahkan demi keberuntungan finansial; bangsa dari benua Eropa semisal Portugis, Belanda, dan Inggris ingin menguasai Pulau Jawa yang waktu itu telah dikuasai oleh Raja-Raja Sunda dan Jawa.
Kedatangan bangsa asing serta keberadaan Kerajaan-Kerajaan Sunda dan Jawa yang senantiasa menerapkan menerapkan politik kekuasaan merupakan salah satu unsur yang sangat mempengaruhi terbentuknya Daerah-Daerah Kadipaten di Pulau Jawa. Daerah-daerah Kadipaten yang waktu it berada di wilayah kerajaan-kerajaan besar sebelum menjadi daerah kabupaten di bawah provinsi pasca kemerdekaan Negara Republik Indonesia.
Melacak jejak babad (sejarah) terbentuknya daerah-daerah kabupaten dan kota di Pulau Jawa sungguh menarik. Sekalipun tanpa dinafikan, bahwa peninggalan-peninggalan dari masa prasejarah, bangsa Hindu dan Buddha, serta kisah-kisah legenda turut mewarnai terbentuknya daerah-daerah kabupaten dan kota tersebut.
Hanya dengan buku ini, Anda akan menjadi orang pertama yang akan mengetahui tentang babad (sejarah) daerah Anda sendiri, serta daerah-daerah lain yang tersebar di Pulau Jawa.
--------
Judul            : Ensiklopedia Babad Bumi Jawa
Penulis         : Krisna Bayu Adji
Penerbit       : Araska
Cetakan        : I/ Oktober 2014
Ukuran         : 13,5 x 20,5 cm
Tebal            : 340 halaman
Kertas          : Bookpaper, Soft cover
ISBN            : 978-602-300-052-4
Mendengar judul buku ini, mungkin akan sedikit terbayang buku lain yang lebih klasik dan terkenal yaitu Babad Tanah Jawi. Secara maknawi, judul kedua buku tersebut sama. Sama dari segi judul namun berbeda isinya. Meskipun sebenarnya penggunaan kata “Babad” untuk judul buku ini, menurut saya, sangat tidak tepat. Dan seharusnya dihilangkan saja.
Sebuah babad secara umum bersifat magis, reliomatis, legendaris, metis, genealogis, pragmatis, rajacentris, fragmentaris, regiosentris, dan bersifat analogis atau simbolis (Trijono: 2011, 53). Oleh karena itu, penulis-penulis babad sebenarnya digambarkan sebagai seorang pujangga yang hidup di dalam istana dan mengabdi kepada raja-raja sebagai pujangga yang menceritakan kebesaran junjungannya. Dengan demikian tidak sembarang orang dapat menulis sebuah babad.
Ensiklopedia Babad Bumi Jawa ini ditulis oleh seorang sejarawan masa kini yang menulis ulang dari beberapa sumber. Krisna Bayu Adji, yang memiliki kegemaran mengunjungi situs-situs sejarah, menyusun buku ini berdasarkan pada apa yang ia dapat dan pelajari dari hobinya itu.
Berbeda dengan Babad Tanah Jawi yang ditulis berdasarkan kurun waktu dari Nabi Adam hingga tahun tertentu, buku ini menuliskan sejarah setiap kota di tanah Jawa secara urut dari barat hingga timur. Tidak hanya kota, tapi juga provinsi yang menaunginya. Dimulai dari Daerah Khusus Ibukota Jakarta, lalu Provinsi Jawa Barat, Provinsi Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta, Provinsi Jawa Tengah, terakhir Provinsi Jawa Timur.
Sebanyak 6 provinsi dan 90 kabupaten dan kota dibahas secara ringkas namun lugas dalam buku ini. Akan tetapi, saking ringkasnya, beberapa daerah malah mendapat “porsi” terlalu singkat. Oleh karena itu, bagi saya, buku ini hanya direkomendasikan bagi para penikmat sejarah yang sekadar ingin mengetahui sejarah tempat-tempat di Pulau Jawa. Akan tetapi jika menginginkan sumber sejarah sebagai referensi sebuah penelitian dsb., buku ini perlu didampingi buku lain yang lebih lengkap dan komprehensif.

[Resensi "Brain Washing untuk Beragam Motif"] Mengenal Kedua Sisi Brain Washing


[BLURB] Cuci otak! Mendengar kata ini, pikiran kita langsung tertuju pada tindakan berbahaya, baik terhadap diri yang bersangkutan maupun orang lain. Bahaya cuci otak semakin tegas meneror masyarakat dengan munculnya beberapa kasus, seperti penculikan anak, aksi terorisme, terkuaknya kelompok yang menamakan diri dengan NII (Negara Islam Indonesia), dan entah apa lagi. Cuci otak menjadi senjata super ampuh bagai setiap orang atau kelompok tertentu demi mewujudkan segudang keinginan buruk mereka.
Lantas, apa sebenarnya cuci otak itu? Bagaimana mekanisme cuci otak dilakukan? Apa saja keberhasilan cuci otak itu? Bisakah metode cuci otak ini dijadikan sebagai sarana mencapai berbagai tujuan positif?
Buku ini menjawab secara detail dan ilmiah semua pertanyaan seputar cuci otak. Bersama buku ini, Anda dapat mempraktikkan sendiri cuci otak sebagai metode yang benar-benar ampuh dalam meraih prestasi, kesuksesan, penunjang semangat kerja, pelecut semangat dan motivasi kerja, penanaman mental, serta segala hal yang positif lainnya.
Hebatnya lagi, buku ini memuat sejumlah trik menghindari pengaruh cuci otak negatif, mengenali tanda-tanda orang yang terkena pengaruh cuci otak, dan dan menyembuhkan korban cuci otak. Jadi, miliki sekarang juga buku yang benar-benar komplet ini.
Selamat membaca!
--------
Judul            : Brain Washing untuk Beragam Motif
Penulis         : Abdul Waid
Penerbit       : FlashBooks (Diva Press Group)
Cetakan        : I/Maret 2012
Ukuran         : 14 x 20 cm
Tebal            : 179 halaman
Kertas          : HVS, Soft cover
ISBN            : 978-602-191-256-0
Harga           : Rp 30.000,-

Brain Washing atau cuci otak sebenarnya telah dikenal sejak era sebelum perang dunia ke-2. Pada masa itu, cuci otak digunakan sebagai pelecut semangat kemiliteran. Pada zaman sekarang, cuci otak mengalami banyak perluasan fungsi dan tujuan. Ibarat mata uang, cuci otak kini memiliki dua sisi yang melambangkan tujuan masing-masing; sisi negatif dan sisi positif.
Cuci otak untuk tujuan negatif telah banyak kita temui di masyarakat. Namun cuci otak untuk tujuan positif belum pernah dengar, bukan? Memang, selama ini paradigma masyarakat tentang kata “cuci otak” sangat negatif. Ibaratnya, cuci otak adalah sebuah proses untuk “mencuci” memori pada otak. Sebagaimana lazimnya mencuci, tujuannya adalah menghilangkan sesuatu. Entah itu noda atau apa pun. Cuci otak dalam benak masyarakat seperti itu. Menghilangkan ingatan masa lalu untuk dimasuki ingatan yang baru.
Tidak sepenuhnya salah, juga tidak sepenuhnya benar. Cuci otak adalah pembentukan paradigma, cara berpikir, atau keyakinan yang berbeda dari sebelumnya. (hlm. 13) Jadi, bukannya menghilangkan paradigma lama, tapi mengubah paradigma lama itu menjadi sesuatu yang salah, lalu paradigma baru yang ditanamkan brain washer (pelaku cuci otak) kepada brain washee (orang yang dicuci otak) benar secara mutlak.
Dengan demikian, cuci otak tentu dapat digunakan untuk menanamkan paradigma-paradigma positif. Buku ini menunjukkan bukti bahwa cuci otak untuk tujuan positif itu ada. Di antaranya, untuk peningkatan profesionalisme militer, kegiatan orientasi sekolah, pelatihan pekerjaan, dll.
Selain itu, yang paling saya suka dari buku ini, penulis juga memberikan tips cara menghindari cuci otak untuk tujuan negatif. Mengenali kunci keberhasilan cuci otak adalah salah satu cara untuk menangkalnya. Suasana hati, tekanan pada batin, dan sikap yang dimiliki, itulah kuncinya. Secara lengkap dan tuntas, buku ini akan membekali pembaca dengan kiat-kiat praktis menggunakan brain washing secara positif dan terhindar dari brain washing untuk tujuan negatif.
Akan tetapi, sangat disayangkan buku ini tidak mencantumkan biodata Abdul Waid selaku penulis. Padahal, sangat penting untuk mencantumkan profil penulis dalam buku ilmiah semacam ini. Sebab pembaca perlu tahu, sejauh mana profesionalitas penulis dalam bidang yang dikajin dan ditulisnya. Apakah Abdul Waid memang ahli dalam psikologi, ataukah ia menulis buku ini hanya karena suka. Pembaca perlu tahu.
Selebihnya, buku ini sangat direkomendasikan untuk dibaca oleh siapa pun. Segala usia. Khususnya para remaja dan mahasiswa. Sebab, kalangan merekalah yang paling rawan menjadi target pencucian otak, terutama untuk tujuan negatif. Semoga bermanfaat. (*)

[Resensi] Menghidupkan Mimpi Ala Pemimpi Sukses


  

Judul            : Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura
Penulis         : Gagus Ketut, dkk.
Penerbit       : Pena Nusantara
Cetakan        : I/2014
Ukuran         : 14,8 x 21 cm
Tebal            : x + 206 halaman
Kertas          : HVS, Soft cover
ISBN            : 978-602-1277-02-7
Harga           : Rp 40.000

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang.
Begitulah Imam Syafii menasehati setiap orang dalam syairnya yang masyhur. Agaknya, syair dari Imam Syafii di atas sangat tepat untuk menggambarkan setiap kisah hidup kesembilan belas mahasiswa PPI-Osaka Nara yang menulis buku ini. Kebetulan salah satu penulis juga mencantumkan penggalan syair tersebut untuk menginspirasi para pembaca. (halaman 8)
Sebuah kisah yang dialami langsung oleh penulisnya lebih berguna untuk dibaca daripada sekadar panduan yang belum pernah dilakukan. Buku Menghidupkan Mimpi ke Negeri Sakura (MMKNS) ini salah satu yang mencoba melakukannya. Terdapat sembilan belas kisah nyata dalam buku setebal 206 halaman ini. Sepanjang menelusuri bagian demi bagian cerita, pembaca akan dibawa menuju detik-detik paling berharga bagi para penulis. Setiap detik itu adalah waktu yang terjadi di masa silam; perjuangan melelahkan, perpisahan mengharukan, dan kejutan tak terduga yang menemani mereka hingga di Negeri Sakura.
Sembilan belas kisah dalam buku ini ditulis secara apa adanya. Bukan sepenuhnya cerpen, artikel, ataupun yang sejenisnya. Sekali lagi, apa adanya. Bahkan Kekuatan DUIT (Doa, Usaha, Ikhtiar, Tawakal) yang ditulis oleh Gagus Ketut, sang koordinator penulis tampak seperti uraian kalimat mutiara yang dijabarkan dengan kisah nyata dirinya sendiri. Sangat menarik dan unik.
Tak kalah unik, cerita yang berjudul Para Cameo sang Penentu Jalan Cerita, sebagian besar berisi ucapan terima kasih penulis kepada pihak-pihak yang telah membantunya hingga sampai ke Jepang. Mulai dari orangtua, para guru, office boy, hingga tukang ojek.
Ada juga penulis yang bercerita dengan gaya cerpen. Di antaranya adalah cerita-cerita favorit saya, antara lain; Perjuangan Demi Perjuangan Meraih Mimpi ke Negeri Sakura, Dari Negeri Saburai ke Negeri Samurai, dan Tak Ada Jalan yang Tak Sampai. Ketiganya menceritakan pahit getir perjuangan penulis mendapatkan beasiswa hingga menjalani hidup di Jepang. Banyak hikmah yang dapat diambil dari ketiga cerita tersebut dan cerita-cerita lainnya, yaitu; pantang menyerah, berpikir positif, hindari penundaan, pandai mengambil peluang, dan yang paling penting, menggapai mimpi itu tidak harus kaya.
Hal-hal tersebut sejalan dengan apa yang ditulis oleh Gagus Ketut pada kata pengantar, bahwa tujuan utama penulisan buku ini adalah menginspirasi sekaligus memotivasi pembaca, khususnya para pemuda Indonesia untuk berani berjuang mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang.
Akhirnya, saya mengajak teman-teman PPI Osaka-Nara untuk menulis kisah inspirasi perjuangan mendapat beasiswa dan kuliah di Jepang. (halaman iv)
Namun sayangnya tidak semua penulis MMKNS memenuhi tujuan tersebut. Beberapa penulis tidak menjadikan kisah perjuangannya sebagai pokok utama cerita. Mereka malah terlalu banyak memasukkan kisah sebelum mendapatkan beasiswa, kisah masa kecil, atau bahkan kisah selama berada di Jepang. Sementara kisah heroik mendapatkan beasiswa ke Jepang itu sendiri hanya secuil. Hampir tidak ada. Sebut saja di antaranya: Yosakoi, Oleh-Oleh Untuk Surabaya. Kisah ini sama sekali tidak menyinggung perjuangan mendapat beasiswa. Penulis hanya menceritakan dirinya yang mengikuti salah satu grup kesenian di Jepang untuk ia bawa ilmunya ke Indonesia. Inspiratif, namun belum tepat sasaran.
Berbeda namun sejalan dengan cerita berjudul Hidup Lebih Indah dengan Sekolah. Penulis lebih banyak menceritakan masa kecilnya yang penuh kesulitan, serta masa-masa kuliahnya di Indonesia yang penuh perjuangan. Namun porsi untuk menceritakan usahanya mendapatkan beasiswa hanya sedikit.
Dari situ pembaca akan merasa heran ketika mendapati cerita yang tidak pada tempatnya. Bukannya mencerahkan, malah terkesan curhat. Hal demikian seharusnya diperhatikan betul oleh para penulis, terlebih lagi koordinator penulis. Sebab sebuah buku ataupun cerita yang baik, konsisten dengan apa yang ditulisnya. Meskipun dalam kasus MMKNS ini beberapa cerita yang menyimpang tersebut masih dapat ditoleransi berkat judul buku yang mengusung tajuk “Menghidupkan Mimpi”, yang sebenarnya mimpi itu dapat “hidup” cukup dengan iming-iming cerita indahnya kuliah di Negeri Sakura.
Selain masalah tujuan yang mesti dipertegas, tata bahasa juga perlu diperhatikan. Terdapat banyak kesalahan penulisan kata dan penempatan tanda baca dalam buku ini. Kemudian, ukuran font yang kadang berubah. Misalnya pada halaman 7 dan halaman 8. Jelas terlihat ukuran font pada halaman 7 lebih kecil dibandingkan halaman 8. Memang sepele, namun cukup mengganggu bagi pembaca.
Kendati demikian, saya yakin bahwa antologi kisah inspiratif ini merupakan salah satu contoh dari apa yang disebut fenomena gunung es. Bagian yang tampak di permukaan laut hanya seperdelapan dari bagian seluruhnya yang berada di bawah air. Kisah-kisah dalam buku ini pun mungkin hanyalah secuil kisah dari banyak mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di luar negeri, terutama di Negeri Sakura. Namun secuil kisah ini memiliki daya luar biasa kuat, dan lebih dari cukup untuk menumbuhkan minat, impian, dan greget setiap pemuda Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di luar negeri.
Seperti ungkapan Pramoedya Ananta Toer, “Tulis, tulis, tulis; suatu saat pasti berguna.” Tulislah setiap jengkal perjalanan kita dalam menggapai mimpi. Suatu saat, pada generasi yang berbeda, seseorang akan membacanya dan merasakan mimpi dalam dirinya melangit. Seperti yang telah dilakukan para pemimpi di PPI Osaka-Nara ini. Oleh karena itu, apa yang mereka lakukan ini penting dan, sebenarnya, harus dilakukan pula oleh para pemimpi sukses lainnya di luar sana.(*)


Muhammad Rizal B. Firmansyah, lahir di Jember, 23 September 1995. Sedang menempuh gelar sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember. Selain hobi membaca, ia juga aktif menulis cerpen dan puisi. Beberapa karyanya pernah dimuat di beberapa koran dan majalah lokal. Karya lainnya terbit dalam beberapa buku antologi bersama. Di antaranya: Kumpul Bocah (LovRinz: 2015), Blackout (Raditeens: 2015), dan Pukul 6 (Writing Revolution: 2015). Ia dapat disapa via HP: 085708307860 atau e-mail firmantigerstar@gmail.com.

[Review “Petualangan Trio Ranger”] Kisah Persahabatan ala Detektif Cilik



Budi, Dios dan Voni adalah murid-murid yang paling cerdas di kelasnya, kelas 5 SD Patriot. Ketiganya adalah sahabat karib. Oleh teman-teman mereka, Budi, Dios, dan Voni dijuluki Trio Ranger. Karena mereka bertiga senang bermain dan melakukan banyak hal bersama.
Suatu hari, kelas mereka kedatangan siswa baru, pindahan dari sekolah lain. Siswa itu bernama Ferdi. Ferdi merupakan teman yang cepat akrab dengan teman-teman lainnya termasuk Trio Ranger. Hingga suatu hari, kelas mereka heboh. Kotak pensil milik Rina hilang. Kotak pensil itu bukan kotak pensil biasa. Rina mendapatkan benda kesayangannya itu dari pamannya di Singapura.
Trio Ranger segera tanggap. Mereka segera melakukan penyelidikan untuk mencari tahu keberadaan kotak pensil Rina. Dengan cara yang sangat cerdas mereka akhirnya menemukan kotak pensil Rina sekaligus menemukan pencurinya.
Dalam kisah Trio Ranger menemukan pencuri ini, penulis benar-benar membedakan antara “menuduh” dengan “menduga”. Menuduh tentu tidak sama dengan menduka. Dan dalam kisah ini, Trio Ranger lebih mengedepankan menduga daripada menuduh seseorang. Orang yang diduga mencuri kotak pensil Rina adalah teman kelas mereka sendiri. Lantas Budi, Dios, dan Voni pun melakukan penyelidikan ala detektif untuk membuktikan kebenaran dugaan mereka.
Akan tetapi setelah kasus kotak pensil Rina selesai, muncul satu kasus lagi, yaitu hilangnya buku-buku ensiklopedia di perpustakaan. Lagi-lagi mereka harus berperan sebagai detektif untuk menemukan pencurinya. Lalu, semua bukti sudah di tangan. Keseruan mengungkap misteri selanjutnyanya akan menjadi pelajaran berharga untuk dibaca oleh anak-anak usia dini.
Nilai-nilai yang terkandung dalam buku ini meliputi kejujuran, tanggung jawab, persahabatan, kerja sama, dan menghargai teman yang berbeda. Maka dari itu, buku ini sangat direkomendasikan untuk menjadi koleksi bacaan anak di rumah ataupun menjadi koleksi di perpustakaan sekolah.
Judul            : Petualangan Trio Ranger
Penulis         : Hamdani MW
Penerbit       : Lintang (Indiva Media Kreasi)
Cetakan        : I/2013
Ukuran         : 14,8 x 21 cm
Tebal            : 144 halaman
Kertas          : HVS, Soft cover
ISBN            : 978-602-1277-02-7
Harga           : Rp 28.000

[Resensi “Cinder: The Lunar Chronicles”] Putri Dongeng dalam Konflik Masa Depan




[BLURB]
Wabah baru tiba-tiba muncul dan mengecam populasi penduduk Bumi yang dipenuhi oleh manusia, cyborg, dan android. Sementara itu, di luar angkasa, orang-orang Bulan mengamati mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.
Cinder—seorang cyborg—adalah mekanik ternama di New Beijing. Gadis itu memiliki masa lalu yang misterius, diangkat anak dan tinggal bersama ibu dan dua orang saudari tirinya. Suatu saat, dia bertemu dengan Pangeran Kai yang tampan. Dia tidak mengira bahwa pertemuannya dengan sang Pangeran akan membawanya terjebak dalam perseteruan antara Bumi dan Bulan. Dapatkah Cinder menyelamatkan sang Pangeran dan Bumi?
--------
Judul            : Cinder: The Lunar Chronicles
Penulis         : Marissa Meyer
Penerjemah   : Yudith Listiandri
Penerbit       : Spring (Grup Penerbit Haru)
Cetakan        : I/Januari 2016
Ukuran         : 19,7 x 13,7 cm
Tebal            : 384 halaman
Kertas          : Bookpaper, Soft cover
ISBN            : 978-602-715-054-6
Harga           : Rp 79.000

Pertama kali melihat kover dan membaca blurb novel ini, saya menebak bahwa Cinder mengadaptasi kisah Cinderella. Dan tebakan itu semakin nyata ketika membaca biodata Marissa Meyer dalam buku ini. Ia seorang author fanfiksi! Bagi saya, fanfiksi selalu identik dengan kreatifitas yang mengagumkan. Mengubah suatu cerita yang sudah ada menjadi kisah baru, yang tidak meninggalkan kesan cerita aslinya.
Seperti kita tahu, Cinderella adalah seorang gadis cantik yang sayangnya bernasib tidak baik. Ia diasuh oleh ibu tirinya yang kejam. Setiap hari Cinderella mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, mengepel, mencuci, dan sebagainya. Sosok Cinderella dalam novel Cinder ini pun tidak jauh berbeda nasibnya dengan Cinderella dalam kisah canon. Namun bedanya, nama Cinderella diubah menjadi Linh Cinder. Mungkin tujuan penulis membuang “ella” agar tokoh yang ia kreasikan itu meninggalkan kesan anggun yang biasa melekat pada tokoh Cinderella. Dan benar saja, Cinder(ella) dalam novel ini adalah seorang mekanik! Dengan tubuh dan penampilan yang sangat jauh dari kata “anggun”.
“Meskipun tubuh Cinder adalah tubuh seorang wanita, keindahannya telah hancur oleh apa pun yang dilakukan ahli bedah kepadanya, meninggalkannya dengan sosok tubuh yang lurus seperti tongkat. Terlalu kurus. Terlalu kelelaki-lakian. Terlalu kaku dengan tungkai palsunya yang berat.” (hlm. 37-38)
“..., dan akhirnya mengakui kehadiran Cinder dengan mencuri pandang ke arah sepatu bot dan celana kargo kotor gadis itu.” (hlm. 27)
Bahkan nama “Linh Cinder” pun tidak anggun. Sampai-sampai ia dikira laki-laki.
“Aku sedang mencari Linh Cinder”. kata Pangeran. “Apakah pria itu ada?” (hlm. 12)
Linh Cinder sebenarnya telah menikmati kehidupannya di bengkel reparasi miliknya di sekitar pasar kota New Beijing. Di sana ia dapat terbebas sejenak dari kesewenang wenangan Adri, ibu tirinya. Karena itu juga, ia dapat membeli kaki pengganti untuk kaki kirinya yang telah usang dan kekecilan tanpa diketahui Adri. Iya, Cinder dalam novel ini adalah seorang cyborg. Manusia dengan bagian-bagian tubuh tertentu berupa mesin. Kaki dan tangan Cinder adalah contoh bagian yang terbuat dari metal. Namun karena keistimewaan itulah, Cinder menjadi mekanik terbaik di New Beijing.
Cinder semakin menikmati profesinya sebagai mekanik ketika Pangeran Kai, putra mahkota di Persemakmuran Timur itu berkunjung ke bengkelnya untuk meminta Cinder memperbaiki robot android miliknya. Android itu sangat penting. Rahasia di dalamnya dapat menjadi penyelamat bagi kerajaan, bahakan bagi bumi. Pertemuan itu ia harapkan menjadi pembuka bagi pertemuan-pertemuan berikutnya.
Tapi sepertinya harapan Cinder harus ditelannya lebih dalam. Kejadian di pasar hari itu akan mengubah kehidupannya ke depan. Penyakit Letumosis menjangkiti orang-orang yang ia kenal. Awalnya Chang Sacha, teman sesama pemilik kedai di pasar kota New Beijing, kemudian Peony, saudari tirinya. Cinderlah yang Adri dan Pearl—kakak Peony salahkan atas kejadian Peony. Ia dianggap menularkan penyakit itu pada Peony. Maka dengan senang hati, Adri, sebagai wali dari Cinder, merelakan Cinder untuk menjadi kelinci percobaan dalam penelitian Letumosis.
Di istana, Cinder ditangani oleh Dokter Erland. Lelaki itu menyuntikkan virus Letumosis ke tubuh Cinder. Tak dinyana, virus itu lenyap. Tubuh Cinder kebal. (bab 9) Kekebalan itu hanya bisa berarti satu hal. Cinder bukan berasal dari bumi. Dan setelah Dokter Erland melakukan penelitian terhadapnya, barulah diketahui identitas Cinder yang sebenarnya. Fakta itu begitu mengejutkan, sehingga Dokter Erland sendiri harus bersusah payah meyakinkan Cinder.
Pada waktu yang sama, penguasa Bulan bernama Ratu Levana datang ke bumi. Ia hendak menjalin kerjasama dengan bumi melalui pernikahan dengan Pangeran Kai. Saat itu pula Dokter Erland meminta Cinder agar menjauh dari Ratu Levana, demi keselamatan Cinder sendiri. Tapi, sesuatu yang Cinder ketahui tentang rencana busuk Levana mengharuskan ia menemui Pangeran Kai. Jika ia gagal memberi tahu Kai, nyawa seluruh penduduk bumi terancam. Namun jika ia nekat mendekati calon kaisar itu pada saat pesta dansa di istana, Levana akan melihatnya, dan itu mengancam nyawanya sendiri. Akan tetapi keputusan Cinder telah bulat. Kai harus tahu kebusukan Levana. Maka di sanalah semua dipertaruhkan.
Jika diperhatikan setting, konflik, dan penggunaan nama-nama benda dalam novel ini, Cinder merupakan novel bergenre Sci-fi (Science Fiction), Fiksi Ilmiah. Lebih khusus, novel ini bergenre Dystopia. Artinya, seting waktu novel ini adalah masa depan. Banyaknya istilah-istilah baru, benda-benda fiktif, inovasi-inovasi dalam banyak hal yang ada dalam novel ini semakin menegaskan bagaimana masa depan itu. Sangat nyata. Begitu logis Marissa Meyer mengimajinasikannya.
Akan tetapi ada satu hal yang tidak saya mengerti. Penggambaran kota New Beijing sejak awal begitu mengagumkan. Gedung-gedung menjulang tinggi. Setiap dinding gedung dipasangi netscreen (sejenis televisi). Banyak hover (mobil terbang) melayang di sekitar gedung-gedung itu. Dalam bayangan saya, tempat itu sempurna. Akan tetapi, pada bagian lain penulis menggambarkan sebaliknya.
“Cinder terkejut mendapati betapa banyaknya sampah dan puing-puing berserakan di jalan sejak hover tidak lagi memerlukan jalan terbuka.” (hlm. 318)
Kalimat di atas berlawanan dengan keadaan yang digambarkan sebelumnya. Jika jalanan dipenuhi sampah dan puing-puing, bagaimana penduduk New Beijing dapat nyaman dengan keadaan yang demikian? Dan bagaimana mereka yang berjalan kaki? Meskipun ada trotoar, selebar apa bahu jalan itu dibandingkan badan jalan? Jika keadaan sepanjang jalan di New Beijing seperti itu, kota itu lebih layak disebut tempat sampah daripada kota kerajaan. See?
Lalu mari beralih pada substansi novel pertama seri The Lunar Chronicles ini. Cinder terdiri atas empat bagian yang disebut “Buku Satu”, Buku Dua”, dan seterusnya. Masing-masing bagian terbagi menjadi beberapa bab. Jumlah keseluruhan bab ada 37. Pada setiap penanda keempat bagian itu, penulis menyertakan penggalan inti dongeng Cinderella sebagai inti dari bagian yang akan diceritakannya. Dan asumsi saya, dengan menuliskan penggalan kisah itu, penulis ingin cerita yang dikarangnya tidak keluar dari koridor kisah asli Cinderella. Penulis masih ingin mempersembahkan novel tersebut sebagai sebuah fanfiksi. Bukan novel pada umumnya.
Satu yang berbeda dari buku ini dengan buku-buku lain yang pernah saya baca, adalah penempatan “ucapan terima kasih” penulis yang diletakkan di akhir novel. Bukankah bagian itu seharusnya ada di awal?
Lanjut dari segi penerjemahannya, setiap kalimat dalam novel ini mudah dimengerti. Akan tetapi ada satu kata, yang menurut saya itu salah, namun diulang-ulang. Entah apakah penerjemah maupun editor menganggap itu benar, tapi menurut saya itu aneh. Kata itu adalah “memelesat”. Menurut KBBI, kata dasarnya adalah “lesat”. Jika ditambah imbuhan –me seharusnya menjadi “melesat”. Jika saja kata “memelesat” itu hanya muncul satu kali, bisa jadi itu salah ketik. Tapi kata itu selalu digunakan untuk kata kerja yang seharusnya ditulis “melesat”. Saya butuh jawaban untuk ini. Mungkin saja saya yang ketinggalan zaman. Semoga editor maupun penerjemah membaca resensi ini. ^_^
Terakhir, tiada yang paling saya inginkan selain menuntaskan seri novel The Lunar Chronicles sampai buku yang terakhir. Novel Cinder ini keren. Terima kasih Penerbit Spring untuk hadiah Novel Cinder: The Lunar Chronicles ini. Saya selalu suka membayangkan suatu tempat yang belum pernah ada sebelumnya. Cinder memenuhi otak saya dengan imajinasi. Ditambah lagi iming-iming cuplikan novel Scarlet di akhir buku ini. Ah, saya tidak sabar menunggu Spring menerbitkan novel-novel Marissa Meyer selanjutnya.
Quotes bagus yang saya temukan di novel ini:



Yang satu ini untuk pemerintah, atau pihak mana pun yang melegalkan pembangunan secara menggila di beberapa wilayah.

 Selamat membaca ^_^